Skip to main content

Story

Kader Pembangunan Manusia Pimpin Upaya Pengurangan Stunting

Monday, May 7, 2018 Author: Intan Oktora Co-author: Hera Diani

stunting-malnutrition-gizi-buruk-gagal-tumbuh-anak-Indonesia-World-Bank-Human-Development-Worker-prevalensi-gizi-buruk-gizi
Salmiah telah menjadi seorang Kader Pembangunan Manusia sejak 2017. Ia berkomitmen untuk mengurangi stunting di desanya.

 

Prevalensi stunting pada anak di Indonesia telah menimbulkan kekhawatiran di jajaran teratas pemerintahan. Pada 2013, 37,2 persen anak balita di Indonesia (hampir 9 juta anak) mengalami stunting, 19,6 persen kekurangan berat badan, sementara 11,9 persen kelebihan berat badan atau mengalami obesitas. Stunting adalah kondisi malnutrisi kronis dan penyakit berulang pada anak. Hal ini dapat diukur dengan membandingkan tinggi anak dengan Standar Grafik Pertumbuhan WHO.

Pemerintah telah meluncurkan Strategi Nasional untuk mempercepat Pencegahan Stunting pada 2017 dan sebagai bagian dari inisiatif ini, termasuk di dalamnya proyek rintisan Kader Pembangunan Manusia (KPM). KPM membantu desa dan penyedia layanan setempat untuk menyediakan layanan pengurangan stunting. Layanan ini mencakup sektor kesehatan, air bersih dan sanitasi, jaminan sosial, dan pendidikan usia dini untuk rumah-rumah tangga dengan ibu hamil dan anak di bawah usia dua tahun.

Kesadaran publik atas stunting dan penyebabnya masih rendah. Salmiah, ibu tiga anak di Lombok Tengah, terpukul mendapati putrinya yang berusia 2 tahun mengalami stunting. Ia mengingat masa kehamilan yang sulit dan ketiadaan akses terhadap makanan bergizi.

“Akibat kurangnya makanan sehat selama kehamilan, anak saya lahir dengan berat badan di bawah normal dan pada usia dua tahun dia mengalami stunting,” ujar Salmiah, seorang guru madrasah Ibtidaiyah.

Meskipun Salmiah merupakan kader posyandu sejak tahun 2000, ia memutuskan untuk belajar tentang stunting setelah anaknya dinyatakan stunting. Ia menemukan bahwa di desanya, 25 anak balita, atau 225 anak, mengalami stunting. Pada 2017, ia menjadi KPM untuk Generasi Sehat dan Cerdas, program yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia.

“Saya paham soal stunting sekarang, dan bertekad untuk memberikan makanan yang sehat dan bergizi dan menjaga lingkungan yang sehat, agar anak saya tumbuh optimal,” ujar Salmiah.

“Sebagai KPM, tugas saya adalah menjamin ibu-ibu hamil mendapat pemeriksaan kehamilan yang rutin di posyandu, mengonsumsi suplemen zat besi dan makanan sehat serta bergizi, dan memiliki akses terhadap air bersih.”

Salmiah bertemu sesama KPM di Jakarta pada sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat dan Bank Dunia. Pengalaman tersebut membuat tekadnya semakin kuat untuk membantu warga melawan stunting. Ia dan para KPM lain juga dilatih untuk menggunakan Tikar Pertumbuhan, alat sederhana dan inovatif untuk mendeteksi stunting sejak dini.

“Sekembalinya dari pelatihan, saya berbagi informasi mengenai stunting dengan masyarakat, terutama mengenai dampaknya dan bagaimana mengatasinya. Saya berbicara dengan warga, tokoh agama, dan kepala desa. Saya bersyukur bahwa 30 persen dari Dana Desa sekarang dialokasikan untuk mencegah stunting,” ujarnya.

Salmiah bekerja secara erat dengan fasilitator dan perwakilan posyandu, pusat pendidikan anak usia dini, program transfer tunai bersyarat (Program Keluarga Harapan, PKH) dan program air dan sanitasi (PAMSIMAS). Dengan memperkuat koordinasi antara para penyedia layanan ini, ia ingin memastikan bahwa semua pemberi manfaat yang disasar menerima paket layanan yang utuh. Salmiah juga mengembangkan peta sosial konvergensi desa dengan membantu mengidentifikasi 11 rumah tangga dengan anak-anak stunting dan tidak memiliki toilet dan air bersih. Ia bekerja sama dengan fasilitator air dan sanitasi untuk memastikan air bersih dan toilet tersedia untuk rumah-rumah tangga ini pada 2018.

Tantangannya saat ini adalah untuk meyakinkan keluarga-keluarga yang menyangkal anak-anak mereka mengalami stunting. “Perlu upaya besar,” ujar Diah, “untuk meningkatkan kesadaran mengenai nutrisi tambahan dan praktik-praktik sanitasi yang baik.”

Kerja keras Salmiah sudah terbayar. Dalam 15 bulan terakhir, jumlah anak-anak di bawah dua tahun yang mengalami stunting turun dari 86 menjadi 58 anak.

“Insya Allah, tidak akan ada lagi keluarga miskin di desa ini, dan setiap anak tumbuh tinggi dan cerdas,” ujar Salmiah.

 

Sumber data: Riset Kesehatan Dasar 2013 dan wawancara.

 

Tautan terkait:

https://localsolutionstopoverty.org/story/length-mats-innovation-reduce-stunting-indonesia.html

http://www.who.int/childgrowth/standards/en/

https://localsolutionstopoverty.org/story/stunting-bootcamp-malnutrition-free-indonesia.html

Related Stories