Skip to main content

Story

Anak-anak Jadi Aktor Utama Program KIAT Guru

Saturday, Aug 12, 2017 Author: Hera Diani

Children the Leading Actor of KIAT Guru Program

Di suatu sore di bulan Juli 2017, belasan murid berdiri membentuk lingkaran di halaman SDI Hawir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Secara bergantian mereka menyebutkan nama, kelas, dan dusun tempat tinggal, serta cita-cita mereka setelah besar nanti.

“Saya ingin jadi penyanyi!” kata Erdi. Emanuel bercita-cita menjadi polisi, sementara Yulia ingin menjadi dokter. Yang lain ingin menjadi pelukis, guru dan bidan. Anak-anak lalu tertawa ketika mendengar seorang anak perempuan menyebutkan ingin menjadi ibu rumah tangga. “Kerja di dapur!!” sahut seorang anak laki-laki, dan si anak perempuan pun tersenyum malu-malu.

Ketika sudah terlihat lebih santai, para murid, yang terdiri dari siswa kelas III hingga kelas VI, diajak masuk ke ruang kelas untuk berdiskusi tentang kinerja guru dan orang tua murid serta apa saran mereka.

Penilaian ini merupakan yang kedua yang pernah diadakan sejak program rintisan KIAT Guru diimplementasikan di sekolah tersebut, dengan kegiatan pertama berlangsung Maret 2016. Program rintisan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya adalah Manggarai Timur. Diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID, program rintisan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Murid menjadi inti utama program rintisan ini, dan opini dan saran mereka menjadi basis pembuatan indikator-indikator penilaian kehadiran dan kinerja layanan guru, serta respon untuk orang tua. Sebelum program dilaksanakan, para siswa menjadi pihak pertama yang dikonsultasikan oleh tim KIAT Guru karena merekalah yang dianggap paling mengetahui bagaimana kegiatan belajar mengajar seharusnya dilakukan di sekolah.

Di SDI Hawir, para siswa diberikan selembar formulir yang menyatakan bahwa informasi yang mereka tuliskan akan dibagikan ke pihak lain. Kertas tersebut memiliki dua emoticon, satu emoticon dengan muka tersenyum dan yang lain emoticon muka sedih. Mereka harus mencentang salah satunya sebagai tanda apakah mereka setuju atau tidak dengan pernyataan yang ditulis.

Setelah itu, mereka menulis di lembar-lembar kartu, apa yang menurut mereka harus dilakukan orang tua dan guru dalam mendukung kegiatan belajar. Membaca apa yang mereka tuliskan di kartu merupakan pengalaman yang emosional karena banyak harapan yang mereka tulis merupakan hal-hal yang biasa diterima teman-teman sebaya mereka di daerah yang lebih maju

Students from 4th to 6th grade of SDI Hawir share their opinions and wishes toward teachers and parents (Photos: Fauzan Ijazah).
Siswa kelas III hingga kelas VI SDI Hawir menyampaikan pendapat dan harapan mereka terhadap guru dan orang tua (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Banyak dari murid tersebut yang tinggal di dusun-dusun dekat situ dan harus berjalan 30 menit hingga satu jam ke sekolah, melewati jalanan berbatu, hutan dan sungai. Beberapa dari mereka ingin punya sepatu, menggantikan sandal yang saat ini mereka pakai ke sekolah. Mereka juga berharap ada bekal atau makan pagi setiap hari, seragam baru, dan ada siswa yang berharap tidak perlu lagi mencari kayu bakar. Sementara itu, para siswa melihat telah banyak peningkatan di sisi guru karena kini tidak ada lagi guru yang terlambat dalam tiga bulan terakhir, dan mereka bersikap lebih santai dan penuh semangat positif.

“Bagaimana dengan hukuman fisik? Apa ada di antara kalian yang masih dipukul guru?” tanya fasilitator KIAT Guru Pansbert Chrispierco Bunga yang memimpin jalannya diskusi.

“Tidaaak,” kata para siswa. Tapi kemudian terdengar suara lirih dari seorang anak laki-laki, “Iya.”

“Kamu masih suka dipukul?” tanya Pansbert.

“Iya, dengan (sepotong) kayu, di pantat saya. Tapi tidak keras, sih,” kata sang murid.

Anak lelaki tersebut, juga siswa lainnya, berkata bahwa mereka tidak berkeberatan dengan hukuman yang ada, tapi jangan terlalu berat, misalnya cukup dengan berlutut, bernyanyi atau cubitan ringan di pipi.

Untuk sekolah, mereka berharap ruang-ruang kelas direnovasi karena banyak yang ada dalam kondisi menyedihkan, dengan lantai dan atap yang berlubang dan dinding yang kotor. Sementara kamar mandi, sebuah bilik bambo reyot dengan lubang di tanah serta digunakan oleh 116 siswa dan 11 guru, juga butuh perbaikan dan perlu ditambah, menurut mereka.

Infrastruktur sekolah yang memadai juga menjadi harapan para murid SDN Mboeng di Desa Kaju Wangi, Kabupaten Manggarai Timur. Sekolah tersebut dibangun oleh masyarakat pada 2009 agar anak-anak mereka dapat bersekolah. Awalnya, bangunan sekolah terdiri atas empat ruang kelas dari bambu, dengan lantai tanah dan tanpa pintu serta jendela. Baru beberapa tahun belakangan Dinas Pendidikan membangun tiga ruang kelas tambahan dengan dinding permanen.

Berdasarkan harapan siswa, pihak sekolah kemudian melubangi dinding bambu agar sinar matahari dapat masuk, dan memasang pintu di ruang-ruang kelas (karena para siswa mengatakan mereka sering mendapati kotoran anjing di meja mereka pagi harinya). Mereka masih berharap dapat memiliki ruang kelas dengan bangunan permanen, tapi setidaknya kini mereka memiliki perpustakaan yang mereka minta tahun lalu.

“Saya suka sekali perpustakaan ini, saya suka membaca berbagai buku cerita,” kata Victoria Anggraini Dautteri Nambung, 10 tahun, siswa kelas VI.

Home
Wali Kelas I SDN Mboeng mengadakan kegiatan belajar di perpustakaan yang baru dibangun (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Guru Agama di SDN Mboeng Tomas Langga Ras berkata bahwa program KIAT Guru, khususnya penilaian murid, telah mengubahnya menjadi manusia baru.

“Dulu, saya adalah guru yang paling ditakuti. Suara saya keras, saya suka berteriak, dan menggunakan tangan saya untuk mendisiplinkan siswa. Sekarang, berkat KIAT Guru, saya sadar bahwa hukuman seperti itu tidak tepat dan merusak psikologis murid.”

Teachers of SDN Mboeng promote interactions among students during the classes (Photos: Fauzan Ijazah).
Guru-guru SDN Mboeng mendorong interaksi antar siswa pada saat belajar (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Janur Damianus, Kepala Sekolah SDN Mboeng, berkata bahwa harapan siswa sering membuat matanya berkaca-kaca.

“Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa siswa punya begitu banyak harapan. Sepertinya selama ini kita selalu menempatkan anak-anak sebagai obyek. Tapi KIAT Guru mengajarkan kita untuk berusaha lebih baik lagi. Hal ini menjadi motivasi bagi kami,” katanya.

Related Stories