Skip to main content
    • image of Basic Service Delivery

KIAT Guru membantu meningkatkan layanan pendidikan di desa-desa terpencil dengan melibatkan masyarakat dalam menilai kehadiran dan kinerja guru. Tunjangan guru dikaitkan dengan kualitas layanan yang diberikan. Program rintisan ini diluncurkan pada Juli 2016 di 203 sekolah dasar dan evaluasi dampak di 270 sekolah dasar di lima kabupaten tertinggal. Masyarakat melakukan verifikasi kehadiran guru dengan menggunakan aplikasi kamera ponsel berbasis android, dan mengevaluasi kinera layanan guru lewat Formulir Layanan Guru.

Video: "Empowering Communities for Better Education"

Publikasi Terkait

Video

Mitra Pemerintah

Mitra Pembangunan

Mitra Pelaksana & Penelitian

Cerita Dari Lapangan

Program Rintisan KIAT Guru Berhasil Meningkatkan Hasil Belajar Murid

Rabu, 16 Jan 2019 Author: TNP2K

 

Evaluasi Bank Dunia menyebutkan bahwa program rintisan KIAT Guru berhasil meningkatkan kehadiran guru dan murid, yang berpengaruh terhadap peningkatan secara signifikan hasil belajar murid, dan penurunan tingkat buta huruf dan buta angka. Evaluasi tersebut disampaikan dalam acara rapat Tim Koordinasi Nasional (TKN) di Jakarta pada tanggal 13 Desember 2018 yang diselenggarai oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen GTK - Kemendikbud) dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), bersama dengan lima pemerintah daerah kabupaten rintisan KIAT Guru (Kabupaten Sintang, Landak, Ketapang dan Manggarai Timur).

Evaluasi tersebut menyebutkan bahwa dampak paling positif secara khusus ditemukan pada sekolah yang menerapkan pembayaran tunjangan khusus guru (TKG) yang dikaitkan dengan kehadiran guru yang direkam dengan aplikasi KIAT Kamera. Pencapaian hasil belajar murid di kelompok ini tiga setengah kali lebih cepat dibandingkan dengan sekolah-sekolah pada kelompok kontrol.

Melihat hasil evaluasi tersebut, lima Kabupaten Rintisan berkomitmen untuk memperluas cakupan Program KIAT Guru dari 203 SD dengan menambahkan 183 SD baru, sehingga jumlah total Sekolah Peserta Program Rintisan KIAT Guru di tahun 2019 akan mencakup 386 SD.

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan, Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Sekretariat Wakil Presiden, Bambang Widianto, menggarisbawahi bahwa, ”Rintisan KIAT Guru adalah langkah awal dalam menemukan mekanisme yang tepat dalam mengaitkan tunjangan dengan kinerja untuk semua ASN, termasuk guru... guna meningkatkan hasil belajar murid.”

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, R. Agus Sartono menyambut baik hasil evaluasi Bank Dunia tersebut dan mendorong agar KIAT Guru diselaraskan dengan kebijakan lainnya, seperti Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) dan Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) dalam mengatasi masalah distribusi guru.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Subandi, lanjut mengarahkan agar ”Pendekatan KIAT Guru diperluas ke daerah lain.”

Dalam sambutan penutupan, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Supriano yang bertindak sebagai Ketua Tim Pengarah menegaskan bahwa ”Payung regulasi penetapan Program KIAT Guru sebagai salah satu model tunjangan berbasis kinerja dan Program Prioritas Menteri akan diperpanjang di tahun 2019.” 

Supriano juga menyatakan agar ”Sebelum kebijakan tunjangan berbasis kinerja diterapkan secara nasional di tahun 2020, diharapkan Program Rintisan KIAT Guru dicobakan ke jenjang pendidikan menengah dan di wilayah perkotaan.”

Rapat koordinasi ini bertujuan untuk melaporkan capaian Program Rintisan sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan nasional dan kebijakan daerah untuk memperbaiki tata kelola guru, khususnya untuk pengaitan TKG dengan kehadiran dan pelibatan masyarakat dalam upaya peningkatan hasil belajar murid.

Rapat TKN didahului dengan pelaksanaan lokakarya akhir tahun di Bogor, 10-12 Desember, yang melibatkan perwakilan pemangku kepentingan dan penerima manfaat dari pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, sekolah dan masyarakat dari lima kabupaten rintisan. Hasil dari lokakarya menjadi bahan laporan kepada Tim Pengarah TKN yang terdiri dari perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Kementerian Desa, Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi, Pemerintah Kabupaten Sintang, Landak, Ketapang dan Manggarai Timur, serta Mitra Pembangunan: Pemerintah Australia, USAID, World Bank dan Yayasan BaKTI. 

 

 

Sumber: TNP2K. Program Rintisan KIAT Guru Berhasil Meningkatkan Hasil Belajar Murid

Program Rintisan KIAT Guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dalam menilai layanan guru dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT: Manggarai Barat dan Manggarai Timur di Nusa Tenggara Timur, serta Sintang, Landak dan Ketapang di Kalimantan Barat. Program ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Pemberdayaan Masyarakat Tingkatkan Hasil Pendidikan di Daerah Sangat Tertinggal

Senin, 10 Des 2018 Author: Hera Diani

 

Meningkatkan kesejahteraan guru telah menjadi fokus prioritas upaya-upaya Pemerintah Indonesia untuk memperkuat sektor pendidikan dan mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan. Pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan 20 persen anggaran mereka untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan.

Namun studi baru-baru ini menunjukkan* bahwa peningkatan kesejahteraan guru tidak mengarah pada hasil belajar murid yang lebih baik, dan angka ketidakhadiran guru di daerah sangat tertinggal tetap tinggi.

Untuk meningkatkan kehadiran guru, program rintisan KIAT Guru (Kinerja dan Akuntabilitas Guru) memberdayakan komunitas untuk meminta pertanggungjawaban guru lewat Komite Pengguna Layanan (KPL).

Program rintisan KIAT Guru diinisiasi oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di bawah Kantor Wakil Presiden Republik Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), dan lima Pemerintah Kabupaten PDT. Yayasan BaKTI mengelola implementasi program, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pendanaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

 

Proses Kerja KPL

Para guru diminta pertanggungjawabannya melalui kesepakatan yang disebut janji layanan antara KPL dan guru. Janji layanan ini memprioritaskan indikator-indikator layanan dari bawah untuk meningkatkan kondisi belajar siswa.

Di beberapa sekolah rintisan, KIAT Guru memberlakukan mekanisme pembayaran Tunjangan Khusus berdasarkan kinerja guru. Pembayaran berdasarkan kinerja ini didasarkan pada verifikasi KPL terhadap kehadiran guru, atau skor kinerja layanan guru yang dinilai oleh KPL.

KPL dipilih oleh guru dan anggota masyarakat. Komite ini terdiri dari sembilan anggota, yakni enam perwakilan orang tua dan tiga tokoh masyarakat. Untuk memastikan keseimbangan gender, setidaknya setengah dari anggota KPL harus perempuan.

Banyak anggota KPL yang hanya lulusan sekolah dasar, beberapa bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Hal ini membuat sebagian orang tua anggota KPL di Desa Kumpang Tengah (Kabupaten Landak di Provinsi Kalimantan Barat) tidak percaya diri saat ditugasi mengevaluasi guru dan menguji murid.

“Awalnya mereka mengatakan, ‘Bagaimana kita melakukannya? Saya tidak berpendidikan. SD saja tidak tamat. Saya hanya bisa membaca. Bagaimana mengetes murid dan mengevaluasi guru?’” ujar Bagas Suharjo, Fasilitator Masyarakat di Landak.

Temuan-temuan awal rintisan ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran yang baik, pengembangan kapasitas, instrumen pengawasan, dan dukungan peraturan dapat memberdayakan masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban guru.

“Pemberdayaan masyarakat berdampak pada kualitas layanan guru dan hasil belajar murid,” ujar Marliyanti, Community Development Officer dariTNP2K.

“Namun mekanisme ini memerlukan kapasitas cukup dari fasilitator masyarakat dan masyarakat sendiri, juga komitmen semua pemangku kepentingan dari tingkat desa sampai tingkat nasional untuk mendukung melalui regulasi dan sumber-sumber daya finansial,” tambah Marliyanti.

 

Respons Komunitas—Dampak Program Rintisan KIAT Guru

Masyarakat desa di Kabupaten Landak mengatakan rintisan itu membantu mereka menyadari rendahnya kualitas pendidikan di wilayah mereka.

“Saya tidak paham bagaimana murid-murid Kelas V dan VI masih seperti Kelas I. Mereka tidak tahu abjad, tidak bisa membaca...

Saya bersyukur atas aktivitas-aktivitas KIAT Guru. Saya kira kita harus bekerja sekeras mungkin karena tidak ada yang bisa melakukannya kecuali kita,” ujar Yohannes Amtas, ketua KPL di Desa Wana Bakti.

Martius, Kepala Desa Kumpang Tengah, mengatakan KIAT Guru membantu warga memahami bahwa dukungan masyarakat berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

“Masyarakatlah yang memilih KPL, bukan sekolah. Warga memilih sendiri perwakilan mereka untuk menilai kinerja guru,” ujarnya.

Orang tua juga semakin sadar peran mereka dalam memperbaiki kualitas pendidikan anak mereka.

“Sebelumnya, orang tua di rumah tidak memberi perhatian pada bagaimana anak belajar di rumah. Orang tua tidak mau susah menyediakan perlengkapan belajar, seperti meja tulis atau kamar belajar.

Setelah KIAT Guru, semua orang tua sekarang memperhatikan proses belajar anak-anak mereka. Mereka menandatangani pekerjaan rumah yang dilakukan anak-anak mereka,” ujar Novi, anggota KPL di Desa Wana Bakti.

 

 

* Sebuah penelitian dari UNICEF (2012) menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan di wilayah-wilayah ini menyebabkan tingkat ketidakhadiran guru yang lebih tinggi; Studi mengenai ketidakhadiran guru oleh Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) (2014) menemukan bahwa satu dari lima guru absen dari sekolah-sekolah di daerah terpencil, atau dua kali lipat tingkat nasional.

Kabupaten Sintang Berkomitmen Lanjutkan dan Perluas Program KIAT Guru

Senin, 10 Des 2018 Author: Hera Diani

 

Dari 390 desa di Kabupaten Sintang di Kalimantan Barat, hanya 30 yang tidak termasuk kategori tertinggal atau sangat tertinggal. Selebihnya masih diliputi kemiskinan, kurangnya infrastruktur di tengah kondisi alam yang keras, dan kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas. Hal-hal ini berdampak pada kualitas pendidikan di kabupaten ini, membuat para siswa memiliki daya saing yang rendah.

“Bukan hal yang tidak umum bagi siswa di sini baru bisa membaca dengan lancar saat mereka ada di kelas VI,” ujar Kartiyus, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sintang.

Pada Juli 2016, Pemerintah Sintang mengadopsi program rintisan KIAT Guru (Kinerja dan Akuntabilitas Guru), yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), dan lima Pemerintah Kabupaten PDT. Yayasan BaKTI mengelola implementasi program, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pendanaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Di Sintang, program ini diimplementasikan di 66 sekolah di 22 desa. Sebuah survei independen menunjukkan dampak sangat positif pada hasil belajar peserta didik dan dukungan orang tua dalam proses belajar, terutama ketika Tunjangan Khusus untuk guru dikaitkan dengan kehadiran guru, yang direkam menggunakan aplikasi kamera berbasis android dan diverifikasi oleh perwakilan masyarakat.

 

Pertemuan rutin bulanan dengan pemerintah desa, guru, orangtua dan masyarakat. (Photo: TNP2K)
Pertemuan rutin bulanan dengan pemerintah desa, guru, orangtua dan perwakilan masyarakat. (Photo: TNP2K)

 

 

“Program ini baru difokuskan pada dua mata pelajaran, Matematika dan Bahasa Indonesia, namun perbaikannya sangat signifikan,” ujar Kartiyus.

Di SDN 06 Nanga Sekapat di Desa Tirtakarya, Kecamatan Merakai, misalnya, kehadiran guru meningkat dari 55 persen menjadi 75 persen. Angka buta huruf menurun dari 2 kasus menjadi tidak ada, sementara angka buta angka menurun dari 5 siswa menjadi nol.

Sementara itu di SDN 40 Lepat Betung, Desa Temawang Bulai di Kecamatan Sepauk, tingkat kehadiran guru naik dari 71 persen menjadi 75 persen. Angka buta huruf turun dari 10 kasus menjadi 2 kasus, sementara tingkat buta angka menurun dari 3 kasus menjadi nol.

Program rintisan ini telah diserahterimakan ke pemerintah desa pada Desember 2017, dan hampir 10 bulan kemudian, berdasarkan pemantauan bersama oleh TNP2K, Yayasan BaKTI dan Bank Dunia, masih berjalan baik dengan dukungan regulasi dan pendanaan dari pemerintah pusat, kabupaten, dan desa.

Hal ini mendorong pemerintah kabupaten untuk berkomitmen melanjutkan dan memperluas program tersebut. Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan pada awal Oktober bahwa ia berkomitmen meningkatkan skala intervensi dari 22 desa sangat tertinggal menjadi semua 213 desa sangat tertinggal di kabupaten tersebut. 

“Ini harus di-scale up di tingkat distrik semua. Beberapa desa ada yang protes, maunya semua sekolah dapat. Kami ingin agar dirancang supaya semua sekolah yang menerima Tunjangan Khusus tercakup. Mungkin kita bisa mulai di desa sangat tertinggal,” ujarnya.

Kartiyus menyambut ide tersebut, namun ia mengatakan perluasan KIAT Guru perlu dilakukan secara bertahap, mengingat pertimbangan keuangan, sumber daya manusia, dan logistik, serta dukungan peraturan. Ia mengusulkan penambahan 66 sekolah pada 2019.

“Mungkin replikasi dapat dilakukan dari desa tetangga yang tertinggal atau sangat tertinggal. Hal-hal yang berkaitan dengan keperluan logistik pun jadi lebih mudah,” ujarnya.

“Tapi memang kita memerlukan perluasan ini karena ini sejalan dengan visi misi kita untuk terciptanya masyarakat yang cerdas.”

Festival Forum KTI 2018: Belajar dari KIAT Guru tentang “Masyarakat Terlibat, Hasil Belajar Murid Meningkat”

Senin, 10 Des 2018 Author: Sharon Kanthy Co-Author: Hera Diani, Setiawan Cahyo Nugroho

 

Program KIAT Guru berbagi pengalaman pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar di daerah sangat tertinggal lewat talkshow dan pameran di Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (Forum KTI) VIII. Festival Forum KTI yang berlangsung di Makassar pada 24-25 Oktober 2018 ini bertujuan mengangkat praktik-praktik cerdas dan inovasi pembangunan lokal dari kawasan timur Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Talkshow ini dihadiri 147 peserta dari perwakilan masyarakat, pemerhati pendidikan, pemerintah daerah dan mitra pembangunan lainnya. Dalam kegiatan ini peserta dari Sulawesi Selatan, Papua dan Papua Barat menyampaikan ketertarikannya untuk juga menerapkan mekanisme pemberdayaan masyarakat KIAT Guru di lokasi mereka.

 

Talkshow KIAT Guru di Makassar
Talkshow KIAT Guru (Makassar, 24/10) bertema Masyarakat Terlibat Hasil Belajar Murid Meningkat pada acara Festival Forum Kawasan Timur Indonesia.

 

 

Kelompok Pengguna Layanan Dorong Peningkatan Kinerja Guru dan Hasil Belajar Murid

Dengan mengangkat tema 'Masyarakat Terlibat, Hasil Belajar Murid Meningkat', diskusi ini menghadirkan narasumber yang berperan besar dalam melaksanakan Program Rintisan KIAT Guru, yaitu perwakilan Kelompok Pengguna Layanan (KPL), kepala sekolah, serta pemerintah daerah.

“Anggota KPL bergiliran melakukan observasi serta mengecek dokumen terkait kegiatan belajar di sekolah. Kami memiliki tujuh prinsip pokok dalam menjalankan tugas kami, yaitu sukarela, akuntabilitas, transparansi dalam menilai, mandiri, profesional, proporsionalitas atau bekerja sesuai tupoksi yang diberikan, dan kerja sama,” ujar Alfiana Pamut, seorang tokoh perempuan yang dipilih dan dipercayai oleh masyarakat untuk memimpin KPL di Desa Compang Necak, Manggarai Timur.

Mewakili pihak guru, Elfrida, Kepala Sekolah SDN Bea Nanga di Manggarai Timur, menekankan peran sekolah dalam memberdayakan masyarakat di desanya. Di awal, KPL pasti sungkan. Tapi pihak sekolah harus mendukung KPL untuk mengevaluasi para guru, dan guru harus mau terbuka dan ikhlas untuk dinilai oleh KPL agar guru juga terbantu dalam mengidentifikasi kekurangan dari layanannya kepada anak didik.”   

Kerjasama dan keterbukaan ini turut meningkatkan kinerja para guru dan belajar murid.

“Sekarang guru hadir dan menjalankan janji layanannya untuk menggunakan media pembelajaran sehingga murid semakin semangat belajar. Hubungan guru dan murid pun membaik karena adanya janji layanan untuk tidak menggunakan kekerasan di sekolah,” ujar Alfiana.

Beberapa bulan yang lalu, saya memandu para masyarakat untuk melaksanakan Tes Cepat dan kami juga dapat melihat secara nyata bahwa prestasi murid semakin meningkat,” tambahnya.

Elfrida menambahkan bahwa janji layanan guru yang disepakati bersama masyarakat berkontribusi pada keberhasilan program rintisan. “Janji layanan guru yang disepakati bersama masyarakat beserta penggunaan KIAT Kamera untuk merekam kehadiran guru di sekolah membuat guru lebih rajin dan kreatif dalam memberikan pembelajaran yang menyenangkan kepada muridnya.”

Alfiana memaparkan lebih lanjut bahwa masyarakat kini semakin menyadari peran mereka dalam perkembangan pendidikan anak mereka.

“Orang tua sekarang sudah mengetahui bahwa mereka memiliki hak untuk terlibat dalam pengawasan pelaksanaan pendidikan sebagaimana tercantum pada UU No 20 Tahun 2003. Kesadaran membuat orang tua menjadi percaya diri saat melakukan penilaian terhadap layanan guru di sekolah kami,” ceritanya.

 

Komitmen dan Tantangan dalam Replikasi Program Rintisan KIAT Guru

Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), dalam arahannya ketika membuka diskusi, menyampaikan agar Program KIAT Guru didiseminasi ke kabupaten-kabupaten tertinggal lainnya.

Beliau menyampaikan, “Secara khusus, praktik baik dalam menerapkan Dana Desa untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat di pendidikan perlu ditularkan ke desa-desa lainnya. Saat ini, Kemendesa PDTT bersama TNP2K dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menjajaki proses replikasi tersebut khususnya dalam mencari cara agar dana desa dapat digunakan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat.”

Kartiyus, Kepala Bappeda Kabupaten Sintang, menyimpulkan bahwa Program Rintisan KIAT Guru telah mendukung kabupatennya dalam hal:

  • ●  Menyiapkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pelaku tingkat desa/ sekolah untuk pelaksanaan secara mandiri sehingga membuat Pemerintah Daerah percaya diri untuk melakukan replikasi.
  • ●  Membantu Pemerintah Daerah dalam menemukan model yang tepat untuk mengaitkan pemberdayaan masyarakat dengan peningkatan kinerja Aparatur Sipil Negara, khususnya guru.
  • ●  Sesuai dengan visi dan misi Bupati untuk mencerdaskan anak.

 

“Di Sintang, Pemerintah Daerah di tahun 2019 telah siap dengan APBD dan APBDes untuk replikasi Program KIAT Guru secara mandiri di 60-an Sekolah Dasar di desa sangat tertinggal,” ujarnya.

KPL Alfiana menyatakan, “Pemerintah Desa sekarang sangat peduli. Perwakilan desa pun hadir dalam pertemuan penilaian bulanan dan mendanai kegiatan KPL sejumlah 20 juta rupiah di tahun 2018 ini.”

Martinus, perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Masyakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Manggarai Timur, menegaskan bahwa KIAT Guru telah menjadi model bagi pengembangan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan Dana Desa. Martinus lebih lanjut menjelaskan bahwa wewenang untuk menganggarkan Dana Desa untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat sebenarnya sudah tercantum di Undang-Undang Desa. Namun, desa-desa perlu dibimbing oleh DPMD dalam menemukan model yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat.

Di akhir talkshow, Elfrida menyampaikan bahwa tidak ada halangan berarti untuk dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. “Kalau kita komitmen, pasti jadi! Apapun sekolahnya, situasinya, kondisinya.”

 

 

Program Rintisan KIAT Guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dalam menilai layanan guru dan dikaitkannya pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT: Manggarai Barat dan Manggarai Timur di Nusa Tenggara Timur, serta Sintang, Landak dan Ketapang di Kalimantan Barat. Program ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Menjalin Asa di Ujung Barat Kabupaten Landak

Selasa, 13 Nov 2018 Author: Novi Ariyanto

 

“Sekarang sudah tidak ada lagi kemangkiran guru. Guru-guru lebih bertanggung jawab dalam memberi pelayanan pendidikan yang terbaik bagi siswa. Saya berharap Program KIAT Guru terus berlanjut,” demikian harapan dari Natalia, seorang Guru PNS dari SDN 03 Tempoak.

SDN 03 Tempoak terletak di Dusun Ohak, Desa Tempoak, Kecamatan Menjalin yang letaknya secara geografis paling ujung barat Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ada tiga sekolah dasar di Desa Tempoak, yaitu SDN 03 Tempoak, SDN 15 Betung Tanjung dan SDN 20 Cagat.

Desa ini menjadi salah satu sasaran Program Rintisan Kinerja dan Akuntabilitas Guru (KIAT Guru), yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), dan lima Pemerintah Kabupaten PDT. Yayasan BaKTI mengelola implementasi program, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pendanaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Program rintisan ini tidak hanya membantu mengurangi tingkat kemangkiran guru di sekolah tersebut, namun juga meningkatkan prestasi akademis murid. Pada akhir April 2018,  SDN 03 Tempoak mengikuti Lomba Bercerita tingkat Sekolah Dasar/MI di Kabupaten Landak yang diselenggarakan di UPT Pendidikan Karangan. SDN 03 Tempoak merupakan satu-satunya peserta dari desa terpencil dalam lomba yang diikuti oleh tiga kecamatan – Mandor, Mempawah Hulu, dan Menjalin.

Sekolah tersebut juga menjuarai Lomba Membaca yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah pada acara Bulan Bhakti Gotong Royong Kabupaten Landak (BBGRM) ke-14 pada April lalu, yang diikuti oleh tiga sekolah di Desa Tempoak Kecamatan Menjalin. Prestasi tersebut membuat bangga semua pemangku kepentingan, yang mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan sekolah-sekolah terpencil dapat bersaing dengan sekolah lain di daerah perkotaan.

 

Students in SDN 03 Tempoak.
Siswa di SDN 03 Tempoak, Desa Tempoak, Kecamatan Menjalin, Kalimantan Barat.

 

 

Komitmen Keberlanjutan Pemangku Kepentingan

Prestasi yang nyata itu sebelumnya tidak pernah diraih oleh SDN 03 Tempoak. Mantan Kepala Sekolah SDN 03 Tempoak, Sarinus Kabire, mengisahkan betapa sebelumnya orang tua siswa dari Dusun Ohak dan Dusun Tareng lebih memilih menyekolahkan anaknya di SDN 20 Cagat di Dusun Cagat, biarpun jauh dari rumahnya. Namun sekarang para orang tua di dua dusun tersebut sudah percaya dengan kualitas SDN 03 Tempoak, yang sekarang menjadi SD Percontohan.

“Jadi sangat sayang kalau program ini tidak berlanjut karena dampaknya sangat besar terhadap peningkatan kualitas sekolah khususnya sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil,” terang Sarinus, yang kini menjadi Pengawas SD di Kecamatan Mempawah Hulu.

Prestasi baru tersebut rupanya berdampak pada peningkatan semangat dan komitmen para pemangku kepentingan dan masyarakat Tempoak untuk melanjutkan program ini walau tanpa kehadiran Tim Pelaksana Daerah KIAT Guru yang telah usai kontrak kerjanya di bulan April 2018.

“Saya siap melanjutkan program ini karena setelah ada KIAT Guru, sekolah yang ada di desa kini bisa bersaing dengan sekolah lain yang ada di Kota Kecamatan,” ujar Sunardi, Kader Desa SDN 03 Tempoak.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah SDN 03 Tempoak, Epi Pina Edita, mengatakan kehadiran KIAT Guru telah membantunya dalam meningkatkan kesadaran guru-guru akan peran dan fungsinya sebagai pendidik dan bertanggung jawab atas tugas utamanya.

“Guru saya semakin disiplin, terutama menaati jam datang dan pulang. Juga guru-guru lebih memberi perhatian pada persiapan kegiatan belajar dan mengajar, dan siswa mendapatkan haknya atas waktu belajar penuh di sekolah,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa jika semua sekolah mendapatkan Program KIAT Guru, pendidikan di semua daerah akan maju.

Perubahan pada guru dan prestasi yang diraih siswa SDN 03 Tempoak menjadi kebanggaan Kepala Desa Tempoak. Pada sebuah kesempatan di pelatihan tata kelola pada bulan Maret 2018, Kepala Desa Tempoak, Damianus menyampaikan rasa bangganya, “Dengan adanya Program KIAT Guru, SDN 03 Tempoak mempunyai prestasi yang nyata di tingkat desa hingga kecamatan, sehingga nama desa kami pun ikut dikenal di bidang pendidikan”.

Kepala Desa Tempoak, Damianus, sangat bangga dengan prestasi sekolah dan ia mengatakan siap mengawal keberlanjutan KIAT Guru dengan mengalokasikan anggaran operasional dari Dana Desa.

“Walaupun Fasilitator Masyarakat sudah tidak bertugas lagi di sini, kami selaku Pemerintah Desa siap melanjutkan praktik-praktik baik dari program ini dan memberikan dukungan sepenuhnya termasuk anggaran,” ujarnya.

Salah seorang Pengawas SD lainnya di Kecamatan Menjalin, Hamdansyah, yang sering mengikuti perkembangan sekolah dampingan KIAT Guru menegaskan akan memberikan sanksi bagi guru-guru yang tidak mau bekerja sama. Penegasannya itu disampaikan pada Pertemuan Rutin Bulanan (PRB) yang dikuti Dewan Guru, Kelompok Pengguna Layanan, Kader Desa serta orang tua murid SDN 03 Tempoak.

Menurut Hamdansyah, selain telah membantu pekerjaannya sebagai Pengawas, KIAT Guru juga telah menghadirkan perubahan nyata di sekolah-sekolah dampingan KIAT Guru. “Oleh karena itu, jika ada guru-guru yang keberatan kinerjanya turut dinilai oleh masyarakat pengguna layanan, harap untuk melaporkan ke saya. Guru-guru tersebut akan saya beri peringatan – bahkan kalau perlu, dapat saya rekomendasikan untuk mutasi,” tegasnya.

 

 

Cerita ini telah dipublikasikan di BaKTI News Edisi 150 Juli Agustus 2018

Sumber: http://www.batukarinfo.com/kiat-guru

Kepala Sekolah di Desa NTT Memimpin dengan Teladan

Rabu, 20 Des 2017 Author: Hera Diani Co-Author: Dewi Susanti, Sharon Kanthy

Ada perumpamaan “Pemimpin yang baik harus memberikan contoh yang baik”, dan inilah yang selalu dilakukan Janur Damianus sebagai Kepala Sekolah SDN Mboeng di Desa Kaju Wangi, salah satu desa sangat tertinggal di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.  

Tiap pagi, dengan mengendarai motornya melewati jalanan berbatu di kawasan pegunungan selama 30 menit, Janur akan menjadi orang pertama yang tiba di sekolah. Pria bertubuh tinggi kurus ini tidak perlu meninggikan suaranya ketika berbicara. Pembawaannya yang tenang dan sabar justru membuatnya menjadi sosok yang disegani.

“Bapak kepala sekolah sangat baik dan kebapakan, namun Ia sangat disiplin, membuat kita malu kalua tidak mengikuti contoh yang Ia berikan. Kalau kami berbuat salah, ia tidak akan marah-marah, tapi memberikan nasihat yang masuk akal. Ia adlah orang yang sangat terbuka dan tidak malu mengakui kesalahan,” ujar Wali untuk murid Kelas IV Elfrida Iman.

Dengan pengalaman mengajar selama 31 tahun, Janur, 53 tahun, dipindahtugaskan ke SDN Mboeng pada 2015. Ia masih ingat bagaimana dulu ia tiba tiap pagi pukul 07.15 WITA hanya untuk mendapati kompleks sekolah yang hampir kosong. Banyak guru yang baru tiba di sekolah setelah pukul 07.30 WITA, waktu seharusnya kelas sudah dimulai.

Janur mengatakan bahwa Ia tidak marah karena ia paham tantangan yang harus dihadapi guru dan murid, yang harus melewati jalanan yang berat untuk mencapai sekolah. Belum lagi ketika musim hujan tiba, bangunan sekolah yang terbuat dari bambu akan kemasukan air dan sekolah menjadi banjir sehingga murid-murid tidak dapat bersekolah selama beberapa hari.

Namun Janur secara konsisten selalu tiba lebih awal dan jerih payahnya pun terbayar: para guru mulai hadir di sekolah tepat waktu. “Saya memperlakukan mereka seperti anak saya sendiri,” ujar Janur yang berasal dari Desa Golosari di kecamatan tetangga, yaitu Kecamatan Sambirampas.

Ketika SDN Mboeng terpilih sebagai salah satu sekolah rintisan program KIAT Guru, Janur sangat gembira karena ia merasa banyak hal yang perlu ditingkatkan, tetapi sekolah dan masyarakat tidak memiliki sumber daya yang cukup. Program rintisan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya Manggarai Timur. Program ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Fasilitator KIAT Guru Angga Yoga S. mengatakan kepala sekolah menjadi sosok penting karena Ia merupakan sosok yang kuat dan amat dihormati oleh masyarakat.

“Kepala sekolah membantu kami untuk mendapatkan dukungan pemerintah desa dalam menjalankan program ini, dan Ia mendukung penuh Kelompok Pengguna Layanan (KPL), yang terdiri dari orang tua murid dan tokoh masyarakat, meski ia tahu bahwa KPL akan memantau dan mengevaluasi kinerjanya,” kata Angga.

Ketika muncul tuntutan dari guru untuk diangkat sebagai pegawai negeri sipil, Janur menyelesaikan masalah tersebut secara damai dengan memberikan pengertian kepada guru bahwa keputusan tersebut merupakan wewenang pemerintah pusat, dan yang terpenting adalah bahwa murid harus mendapatkan pendidikan yang terbaik.

School principal
(Photo: Fauzan Ijazah) ​​​​​

 

Angga mengatakan Janur sangat terbuka dengan masukan, bahkan dari seseorang yang jauh lebih muda sekalipun.

“Saya pernah bercerita kepadanya tentang kepala sekolah di Yogyakarta yang suka berkeliling sekolah untuk melihat sendiri kondisi murid-murid; Ia menganggap itu ide yang sangat baik dan ia mulai melakukan hal yang sama,” kata Angga.

Janur memprakarsai perpustakaan sekolah ketika muncul permintaan dari para murid. Ia mengatakan bahwa ia meminta sumbangan buku dari berbagai sekolah, anggota keluarga hingga kenalannya di Jakarta. Hasilnya, SDN Mboeng tahun ini menerima donasi ratusan buku yang dari masyarakat.

Janur juga mewajibkan semua orang di sekolah untuk menggunakan Bahasa Indonesia dari Senin hingga Kamis. Inisiatif ini diberlakukan setelah melihat hasil temuan awal (baseline survey) KIAT Guru yang menunjukkan banyak murid yang belum dapat berbahasa Indonesia dengan baik karena kebanyakan masih menggunakan bahasa daerah.

“Saya tidak mempromosikan KIAT Guru, tetapi sungguh ini adalah program yang sangat baik. Kami sebagai guru belajar banyak dari hal ini. Kami menerima pelajaran yang amat berharga, yaitu tentang disiplin dan kehadiran,” katanya. 

Ia berharap program rintisan ini akan diimplementasikan di tiap sekolah, atau setidaknya di sekolah anak perempuannya yang berumur delapan tahun yang berada di seberang rumahnya. Janur mengatakan Ia tidak menyekolahkan anaknya di SDN Mboeng karena lokasinya yang terlalu jauh dan jalur menuju sekolah yang berat akan sulit dilalui ketika musim hujan. Meski demikian, Ia prihatin dengan kondisi absensi kehadiran guru dan kurangnya layanan pendidikan yang diberikan di sekolah anaknya.

“Sungguh ironis ketika saya bekerja keras mendorong berhasilnya program ini untuk meningkatkan kualitas SDN Mboeng, sementara kondisi di sekolah anak saya justru sebaliknya,” keluh Janur.

Medan Berat Menuju Sekolah di NTT Tak Halangi Murid Belajar

Sabtu, 11 Nov 2017 Author: Hera Diani Co-Author: Dewi Susanti, Sharon Kanthy

Matahari belum terbit di Dusun Hawir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pagi itu di bulan Juli. Namun Patria Helena “Helen” Delasmi, 9 tahun, dan adik laki-lakinya Yanuarius Theodata Giarto alias Gian, 6 tahun, sudah siap pergi sekolah. Sambil menunggu sarapan dihidangkan, kakak beradik itu bermain dengan adik bungsu mereka yang berusia tiga bulan yang sedang digendong nenek mereka. Setiap hari Helen dan Gian harus bangun subuh karena jarak sekolah yang jauh dan perjalanannya mirip petualangan lintas alam – berjalan kaki 30 menit sampai satu jam melewati jalan tanah yang berbatu, melewati hutan, padang rumput dan aliran sungai. Namun mereka tidak punya pilihan karena hanya ada satu sekolah dasar di Nggilat, yakni SDI Hawir, untuk tiga dusun dan desa tetangga, Singkul. Sekolah itu telah dipilih untuk ambil bagian dalam program KIAT Guru untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Program rintisan ini adalah hasil kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan (TNP2K) dan dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya Manggarai Barat, serta diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari Bank Dunia dan pendanaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

As trails of sunlight broke into the kitchen, Helen and Gian are having breakfast of rice mixed with noodle.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berkas-berkas sinar matahari menyelinap dari dinding kayu di dapur, dan Helen serta Gian menikmati sarapan nasi dengan lauk mie. Mereka ditemani ibu mereka, Veronica Sulastri, 27 tahun. Seperti umumnya anak-anak di desa itu, Helen pemalu terhadap orang asing dan ia tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia karena lebih terbiasa berbicara bahasa daerah. “Ia sebetulnya suka membaca dan senang Matematika, tapi ia kesulitan mengerti Bahasa Indonesia,” kata Veronica. Ia mencoba membantu Helen belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah setiap malam, salah satu kegiatan yang termasuk dalam perjanjian layanan komunitas dalam program KIAT Guru. 

KIAT Guru memberdayakan masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban guru dengan menyepakati untuk memprioritaskan lima sampai delapan indikator kinerja layanan untuk memperbaiki kondisi belajar murid. Sebaliknya, masyarakat, dalam hal orang tua, harus melakukan tugasnya di rumah, seperti menyediakan kebutuhan anak-anak, misalnya seragam dan meja belajar, dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah. “Tapi saya hanya bisa membantu sebisanya karena saya hanya lulusan SMP,” kata Veronica.

Helen's father helps her tying her shoes before going to school.

Ayah Helen, Maksimus Sunardi, 31 tahun, membantunya mengikat tali sepatu sebelum pergi sekolah. Sunardi menyambut baik program KIAT Guru di sekolah anak-anaknya dan ia aktif terlibat dalam pertemuan-pertemuan antara guru dan Kelompok Pengguna Layanan (KPL), yang mencakup orang tua murid dan tokoh masyarakat. Ia berharap pemerintah memperbaiki jalan desa karena ia khawatir anak-anaknya yang masih kecil harus melalui perjalanan yang menguras fisik untuk mencapai sekolah. “Beberapa anak di desa ini sampai tidak mau sekolah karena terlalu melelahkan,” ujarnya.

Sebagai petani, medan yang berat juga membatasi akses terhadap pasar. Sunardi menjual sejumlah komoditas, dari kemiri sampai beras dan biji kopi, yang dikirim secara kolektif dengan truk ke penadah di Kecamatan Reo di Kabupaten Manggarai. Akibatnya, harga-harga komoditas naik turun tergantung penadah, ujar Sunardi.

Helen climbs down the stairs in front of her house

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Helen menuruni tangga di depan rumahnya, yang terbagi atas dua area, yaitu bangunan batu-bata untuk tempat tinggal dan dapur kayu di belakang. Toilet dan kamar mandi ada di bangunan terpisah. Beberapa anak sudah menunggu kakak beradik itu untuk pergi sekolah bersama-sama. Sebagian dari mereka tinggal di Desa Singkul, yang jaraknya lebih jauh lagi dari sekolah. Mereka melewati rumah Helen setiap hari dan suara mereka berlari dan bercakap-cakap merupakan tanda bagi Helen untuk berangkat ke sekolah.

More students join Helen and other kids to walk to school.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lebih banyak lagi murid bergabung dengan Helen dan anak-anak lain untuk jalan kaki menuju sekolah. Mereka kelihatannya sudah terbiasa melalui jalan berbatu-batu dan terjal itu, berjalan cepat dan melompat dengan gembira, meskipun beberapa masih sangat kecil dan sebagian lagi memakai sandal jepit karena tidak mampu membeli sepatu. Dalam pertemuan awal KIAT Guru dengan anak-anak, saat mereka diminta rekomendasi untuk orang tua dan sekolah, mereka berharap mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang oleh anak-anak di daerah yang lebih maju dianggap biasa. Beberapa dari anak-anak ini ingin punya sepatu, makanan dan seragam yang bagus. Yang lainnya berharap agar tidak perlu mencari kayu bakar di hutan.

Helen and other students draw water from Turvale River into the jerry cans.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Helen dan anak-anak lain mengambil air dari Sungai Turvale menggunakan jeriken. Musim kemarau membuat halaman sekolah gersang dan berdebu, jadi murid-murid diminta membawa air untuk menyiram tanah dan tanaman, karena tidak ada sumber air tersedia di sekolah. Pada musim kemarau, air sungai hanya setinggi mata kaki. Tapi saat hujan lebat, sungai meluap sampai dua meter sehingga anak-anak terpaksa tidak masuk sekolah. Ketika air surut, ayah Helen, Sunardi mengatakan, Ia dan bapak-bapak lainnya harus menggendong anak-anak di bahu mereka untuk menyeberangi sungai.

Students walked up the rocky path in the forest and each carry their jerry cans of water to school.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak melewati jalan berbatu-batu di hutan dan masing-masing membawa jeriken berisi air menuju sekolah. SDI Hawir memiliki luas tiga hektar tapi kondisinya buruk, dengan lantai dan langit-langit yang retak, dan hanya ada satu toilet berbentuk bilik bambu reyot dengan lubang di tanah, yang digunakan oleh 116 murid dan 11 guru mereka.

A truck pass the students who walk to the school.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah truk melewati anak-anak yang berjalan ke sekolah. Jalan desa yang berbatu-batu tidak memungkinkan kendaraan biasa lewat, jadi truk adalah moda transportasi publik antardesa. Bagian belakang truk dipasang bangku-bangku panjang untuk tempat duduk penumpang dan bagian atas dipasangi kanopi. Orang-orang biasanya sudah bisa mendengar suara truk jauh sebelum mereka muncul, karena pengemudinya memainkan musik disko dengan volume kencang untuk menghibur para penumpang, dan diri mereka sendiri.

Helen passes a meadow on her way to school.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Helen melewati padang rumput dalam perjalanan ke sekolah. Ketika ditanya cita-cita, ia mengatakan, seperti diterjemahkan ayahnya, ingin menjadi bidan. Mungkin ia melihat perjuangan ibunya ketika hamil dan melahirkan. Tidak ada klinik dan bidan di Hawir yang terpencil. Puskesmas terdekat ada di Desa Rego, sekitar 7 kilometer jauhnya. Veronica punya pengalaman traumatis dengan dukun beranak ketika melahirkan Helen. Jadi saat akan melahirkan Gian, ia memutuskan pergi ke Rego, yang berarti berjalan satu jam dengan perut besar karena mobil dan ambulans tidak bisa melalui jalan desa yang terjal berbatu. Kasus kematian ibu melahirkan di desa itu sudah langka sekarang, namun medan yang berat menimbulkan komplikasi medis seperti pendarahan. Untuk anak bungsunya, Veronica tinggal bersama kakak perempuannya di ibukota kabupaten, Labuan Bajo, selama dua bulan sampai ia melahirkan.

It is 7.15 a.m. and the students finally arrive at SDI Hawir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waktu menunjukkan pukul 07.15 WITA dan murid-murid akhirnya tiba di SDI Hawir. Semua guru juga sudah datang. Sambil menunggu pelajaran mulai, beberapa murid bermain di luar sementara yang lain langsung masuk kelas untuk melakukan tugas piket. Lima belas menit kemudian, bel berbunyi dan semua menghambur ke dalam kelas untuk memulai pelajaran hari itu. Helen duduk di kursi paling belakang, mengikuti pelajaran bersama anak-anak kelas tiga lainnya. Dalam studi awalan program rintisan KIAT Guru, Helen “tidak mencapai kemampuan dasar” untuk Bahasa Indonesia dan Matematika. Namun ia terlihat bersemangat untuk belajar dan sangat aktif di kelas, membawa harapan tinggi ayah dan ibunya agar ia bisa lulus dari universitas.

 

Foto: Fauzan Ijazah

Aplikasi Kamera : Katalis Peningkatan Kinerja Layanan Guru di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 2 Nov 2017 Author: Hera Diani Co-Author: Dewi Susanti, Sharon Kanthy

 

Waktu menujukkan hampir pukul 07.30 WITA dan kepala sekolah serta guru-guru SDN Mboeng di Desa Kaju Wangi, Kecamatan Elar, salah satu desa sangat tertinggal di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, bergiliran mengambil foto menggunakan ponsel.

Mereka bukan sedang memperbarui foto mereka untuk dipasang di media sosial. Sesi foto ini merupakan bagian dari Program Rintisan KIAT Guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Program Rintisan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya Manggarai Timur. Program ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Kehadiran guru telah menjadi salah satu tantangan di desa ini, karena beberapa guru baru datang pukul 09.00, 90 menit setelah kelas seharusnya dimulai, atau malah tidak hadir sama sekali. Pada kunjungan mendadak yang dilakukan ke SDN Mboeng pada 31 Oktober 2016, ternyata satu dari enam guru yang memiliki jadwal mengajar di hari itu tidak hadir di sekolah, setara dengan tingkat kemangkiran guru sebesar 17 persen. Alasan ketidakhadirannya adalah sedang menghadiri pelatihan di kecamatan sebelah. Angka ini selaras dengan survei awal yang dilakukan World Bank di 270 sekolah yang masuk dalam Program Rintisan KIAT Guru yang menunjukkan tingkat kemangkiran guru sebesar 25,4 persen. Survei yang dilakukan oleh Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) pada 2014 menunjukkan tingkat kemangkiran guru di sekolah di daerah terpencil sebesar 19,3 persen, dua kali lipat dari angka di tingkat nasional, yaitu 9,4 persen.

School Principal in East Nusa Tenggara Village Walking the Talk
Seorang guru mengambil foto menggunakan KIAT Kamera, aplikasi berbasis Android yang terdapat dalam ponsel khusus, di awal dan akhir kegiatan mengajar. Waktu yang tercatat di ponsel kemudian dikumpulkan pada akhir bulan sebagai bukti kehadiran guru (Foto: Fauzan Ijazah).

 

SDN Mboeng telah memberlakukan satu dari tiga model intervensi KIAT Guru sejak April 2017, di mana Tunjangan Khusus diberikan kepada guru berdasarkan tingkat kehadiran mereka di sekolah, setelah diverifikasi oleh perwakilan masyarakat. Kepala sekolah dan guru wajib mengambil absensi masuk dengan aplikasi berbasis android KIAT Kamera, dengan kesepakatan jam masuk paling lambat pukul 07.30 di pagi hari dan jam pulang paling awal pukul 12.30 di siang hari. Kemudian, setiap akhir bulan, masyarakat akan mengecek kembali absensi guru dan mengevaluasi kinerja layanan guru menggunakan Formulir Layanan Guru. Sejauh ini, intervensi tersebut berhasil mengurangi tingkat kemangkiran dan keterlambatan guru.

“Sejak April 2017, tidak ada lagi guru yang terlambat. Hal ini juga menular ke murid. Melihat guru-guru mereka begitu disiplin, anak-anak pun melakukan hal yang sama. Mereka sekarang memiliki perilaku yang lebih baik dan jarang datang terlambat, meskipun banyak dari mereka harus berjalan kaki sekitar 30 menit hingga satu jam ke sekolah,” kata Kader KIAT Guru Andreas Jemahang yang anak laki-lakinya bersekolah di SD tersebut.

Bersama dengan Kelompok Pengguna Layanan (KPL), yang terdiri atas sembilan orang tua murid dan tokoh masyarakat, Andreas mengevaluasi tingkat kehadiran dan kinerja layanan guru berdasarkan indikator atau janji layanan yang telah disepakati bersama antara guru dan masyarakat. Berdasarkan rekomendasi dari para murid, yang dikonsultasikan oleh tim KIAT Guru di awal implementasi, ada sejumlah janji yang disepakati, mulai dari datang tepat waktu di sekolah, tidak menggunakan hukuman fisik pada anak-anak hingga lebih kreatif dalam mengajar, misalnya dengan menggunakan alat peraga atau mengadakan sesi belajar di luar kelas.

Seiring meningkatnya kinerja guru, demikian juga dengan kemampuan para murid, seperti terlihat dalam studi awalan pengukuran kemampuan belajar dan tes cepat kemampuan literasi dan numerasi murid.

“Studi awal pengukuran kemampuan belajar yang dilakukan pada September 2016 menunjukkan bahwa siswa kelas 3 memiliki kekurangan dalam membaca. Pada bulan Juni, diadakan tes cepat kepada para murid yang sama dan hasilnya sungguh menggembirakan. Enam murid kini dapat membaca dengan baik, dua murid memenuhi standar murid kelas 2, dua murid memenuhi standar kelas 4 dan bahkan ada satu siswa yang memenuhi standar membaca kelas 4,” ujar Wali Kelas 3 Karolina Lantu.

Teaches conducts classes outside or in the library (Photo: Fauzan Ijazah)
Memenuhi harapan siswa, guru-guru di SDN Mboeng bergiliran mengadakan kegiatan belajar mengajar di luar kelas atau di perpustakaan (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Siswa kelas 6 Sabina Rantos mengatakan bahwa Ia senang sekali kini para guru mau mengadakan kegiatan belajar di luar kelas, seperti saat belajar tentang Ilmu Pengetahuan Alam.

“Rasanya lebih menyenangkan,” kata Sabina, yang harus berjalan selama dua jam setiap harinya untuk pergi dan pulang sekolah.

Guru Laki-laki di Desa Terpencil di NTT Ajarkan Kesetaraan Gender

Selasa, 10 Okt 2017 Author: Hera Diani

 

Pagi itu di SDI Hawir di Dusun Ndari, Desa Nggilat di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, para murid Kelas V sedang belajar tentang Agama Katolik, namun materi yang diajarkan tidak hanya mengenai menghapal isi Alkitab.

Sang guru, Quintus Kalis, memulai kelas dengan bertanya kepada para murid tentang siapa yang bertanggung jawab untuk memasak di rumah. Murid-murid langsung menjawab serempak, “Ibu!”

“Bagaimana dengan membersihkan rumah? Dan pekerjaan rumah lainnya?” ia bertanya lagi, dan mendapat jawaban yang hampir sama. “Ibu! Anak perempuan!” jawab para murid.

“Anak laki-laki tidak ikut membantu? Bagaimana kalau Ibu sakit? Kalian tidak makan?” ia mendesak. Kali ini, pertanyaan guru berusia 45 tahun itu mendapatkan respon hening.

Sambil tersenyum, Quintus menjelaskan bahwa pekerjaan rumah tangga bukanlah tugas anak perempuan, karena anak-anak perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya serta memiliki kemampuan yang sama.

Dalam obrolan kami di luar kelas, Quintus bercerita bahwa pembagian peran antar gender telah menjadi keprihatinannya sejak lama, meski ia sendiri mungkin tidak terlalu paham arti istilah tersebut.

“Saya melihat kondisi di masyarakat dan jadi heran, bagaimana para pria hanya duduk-duduk saja sambil menunggu kopi dihidangkan. Anak laki-laki bisa bermain seharian sementara anak perempuan harus membantu pekerjaan di rumah sejak pagi. Saya merasa tidak nyaman melihatnya,” ujarnya. Quintus lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk mengajarkan nilai-nilai kesetaraan gender kepada para murid ketika ia menjadi guru kelak.

Berasal dari Desa Colol di Kabupaten Manggarai Timur, Quintus menyelesaikan pendidikan guru di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Keuskupan di Ruteng, ibukota kabupaten Manggarai. Ia kemudian bekerja di paroki di Pateng, Kabupaten Manggarai Timur, setelah lulus. Di sanalah ia pertama kali mengajarkan topik kesetaraan gender di kelas agama.

“Mengajarkan Agama tidak hanya melulu tentang berdoa atau kepercayaan, tetapi juga tentang kebersihan, perilaku,” katanya sambil menambahkan bahwa ia pun mengajarkan murid bagaimana memasak nasi.

“Lebih penting lagi, kita harus menerapkan apa yang kita ajarkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi contoh yang baik untuk orang lain. Kita bisa mengajarkan mereka bagaimana cara menyapu lantai, tapi jika kita tidak memberi contoh, mereka tidak akan melakukannya.”

Prinsip-prinsip tersebut ia terapkan di rumahnya sendiri, di mana dua anak perempuannya dan anak laki-lakinya harus ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Quintus tidak terganggu dengan kenyataan bahwa istrinya, yang juga guru, memiliki penghasilan yang lebih besar karena sang istri telah lebih dulu menjadi pegawai negeri sipil.

“Anak perempuan sulung saya bertanya, ‘Kenapa gaji Ibu lebih tinggi daripada Bapak?’ Saya bilang kepadanya kalau sebenarnya Bapak dan Ibu memiliki gaji yang sama, tapi saya berikan gaji saya ke ibu mereka,” katanya sambil tertawa.

Setelah mengajar selama 17 tahun di sekolah menengah pertama, Quintus dipindahkan ke SDI Hawir pada 2013. Ia mendapati bahwa masyarakat di Dusun Ndari lebih santai dibandingkan di Pateng.

“Di Pateng, kalau kita lewat di depan rumah warga saat jam sekolah sudah dimulai, mereka akan bertanya, ‘Pak Guru, kenapa baru lewat? Anak-anak kami di sekolah bagaimana, Pak?’ Tapi di sini, mereka malah berkata, ‘Pak Guru, mari duduk mengopi dulu dengan kami,” ujarnya.

Namun, menurut Quintus, sikap seperti itu sudah mulai berubah sejak program rintisan KIAT Guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru hadir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Barat.

Program rintisan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya adalah Manggarai Barat. Proyek ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Quintus mengatakan bahwa program ini telah menyadarkan masyarakat dan para guru, menyediakan wadah mediasi untuk menciptakan solusi untuk meningkatkan pendidikan siswa.

Ia senang sekali bahwa KIAT Guru menjadikan para murid sebagai inti dari program lewat konsultasi dengan anak-anak sekolah sebelum program dimulai, dengan cara menanyakan pendapat mereka mengenai dukungan yang diberikan guru serta anggota masyarakat dalam kegiatan belajar. Hal ini sejalan dengan pemahaman Quintus bahwa orang dewasa lah yang harus memahami pikiran dan dunia anak-anak, bukannya menjadikan mereka sebagai obyek.

“Kita harus menganggap mereka sebagai anak kita sendiri. Masuk ke dunia mereka, mengenali mereka karena masing-masing anak adalah unik dan memiliki kemampuan serta keahlian yang berbeda-beda. Jika kita tarik mereka ke cara kita berpikir, kita pasti akan jadi tidak sabar,” katanya.

“Jika kita terlalu keras dengan mereka, mereka akan jadi takut untuk belajar. Kalau mereka bersorak girang ketika bel istirahat berbunyi, kita jangan senang dulu, karena itu bisa berarti kelas kita terasa seperti penjara bagi mereka.”

 

Akuntabilitas Sosial: Meningkatkan Kehadiran dan Kualitas Layanan Guru

Senin, 21 Agu 2017 Author: Dewi Susanti Co-Author: Hera Diani

 

Pagi itu, di hari terakhir bulan Mei 2017, seorang perempuan muda berdiri di ruang kelas yang disulap menjadi ruang pertemuan sementara. Dia memegang microphone dengan mantap dihadapan sekelompok orang yang didominasi oleh laki-laki. Suaranya lantang dan jelas, tanpa terlihat gugup atau takut. Dia membacakan nilai kinerja layanan guru di sekolah tersebut.

Indikator layanan satu. Kepala Sekolah hadir tepat waktu, dari hari Senin hingga Kamis, dari Pukul 07.15 hingga Pukul 13.00, dan Jumat hingga Sabtu, dari Pukul 07.15 hingga Pukul 11.30. Bobot maksimum nilai 20. Nilai yang diberikan oleh Kelompok Pengguna Layanan adalah 17,ujar perempuan muda itu.

Ia adalah Alfiana Pamut, Ketua Kelompok Pengguna Layanan (KPL) di SD Inpres Golo Popa, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, salah satu provinsi termiskin di Indonesia.

Selama mengikuti jalannya pertemuan dan mengamati dari belakang ruang pertemuan, saya sangat terkesan. Dalam konteks yang berbeda, cukup lumrah bagi masyarakat untuk menuntut agar guru bisa memberikan layanan pendidikan yang lebih baik. Namun SD Inpres Golo Popa terletak di desa Compang Necak, sebuah desa yang sangat terpencil, tiga jam perjalanan dari kota terdekat. Sembilan kilometer terakhir membutuhkan satu jam perjalanan melalui jalan tanah yang berbatu, menanjak, dan berkelok-kelok. Di desa-desa sangat terpencil seperti Compang Necak, masyarakat cenderung sangat menghormati para guru, karena mereka memiliki tingkat pendidikan, pendapatan, dan status sosial yang lebih tinggi.

Lokasi sekolah yang amat terpencil juga membuat staf Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten dan kecamatan kesulitan melakukan pengawasan terhadap sekolah. 

Studi yang dilakukan UNICEF di tahun 2012 menunjukkan bahwa minimnya pengawasan terhadap sekolah berakibat pada tingginya tingkat kemangkiran guru. Survei kemangkiran guru yang dilakukan oleh Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) tahun 2014 menemukan bahwa satu dari lima guru mangkir dari sekolah-sekolah terpencil, jumlah tersebut adalah dua kali lipat dari rata-rata nasional.

Survei yang dilakukan Bank Dunia di akhir tahun 2016 di SD Inpres Golo Popa menunjukkan bahwa satu dari tujuh guru mangkir dari sekolah. Tidak satupun dari 51 murid yang dievaluasi (dari 61 murid terdaftar) mencapai kompetensi kemampuan dasar Bahasa Indonesia dan matematika yang sesuai dengan kelasnya.

Demikianlah kondisi memprihatinkan yang terjadi sebelum Program Rintisan KIAT Guru (Kinerja dan Akuntabilitas Guru) dimulai. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), dan lima Pemerintah Kabupaten PDT, salah satunya Manggarai Timur. Yayasan BaKTI mengelola implementasi program, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pendanaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

KIAT Guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di desa sangat tertinggal. Program Rintisan ini memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan akuntabilitas guru dengan menyepakati lima hingga delapan indikator layanan untuk meningkatkan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak. Di beberapa sekolah rintisan, pemberdayaan masyarakat ini dikaitkan dengan tunjangan guru, yang dibayarkan berdasarkan verifikasi KPL atas kehadiran guru, atau penilaian KPL atas kinerja layanan guru.

Setelah Alfiana selesai membacakan nilai kinerja layanan untuk tujuh guru di sekolah tersebut, Kader Desa, selaku moderator pertemuan, mengundang Kepala Sekolah dan orang tua untuk memberikan tanggapan. Setelah semua guru menyampaikan pendapatnya, Ibu Ester Esem, sang Kepala Sekolah angkat bicara dengan suara lantang, Saya mendapat nilai 6 dari 10 untuk mengecek Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Saya minta penjelasan. Pengecekan KBM saya lakukan setiap hari.

Di SD Inpres Golo Popa, kinerja layanan guru yang dievaluasi KPL menentukan besaran Tunjangan Khusus yang diterima guru. Dengan kata lain, sang Kepala Sekolah, yang mendapat nilai total 91 untuk kinerja layanannya, akan menerima 91% dari Tunjangan Khususnya untuk bulan Mei. Karena besaran Tunjangan Khusus tersebut setara dengan satu kali gaji pokok, maka nilai yang diberikan KPL amat berarti bagi para guru.

Peserta rapat langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan Ester. Saya bisa merasakan banyak di antara mereka menjadi agak resah. Sementara moderator memindahkan microphone, beberapa orang berhati-hati memindahkan beban badan sambil memastikan kursi kayu yang mereka duduki tidak berderik.

Begitu Alfiana menerima microphone, dia menjawab, masih dengan suara lantang dan penuh percaya diri seperti sebelumnya, Kami mengecek dokumen, melakukan pengamatan, dan wawancara dengan anak-anak. Di daftar hadir ada guru yang menandatangani buku absen, tapi pada hari tersebut, dia ada di tempat lain. Jadi pengawasan Ibu kurang maksimal. Ada dua bapak guru sedang menjadi pengawas ujian di tempat lain, tapi ditulis hadir di sini. Jadi kami melihat hal tersebut kurang bagus.

Saya sangat terkesan dengan para anggota KPL. Saat istirahat makan siang, saya mencari kesempatan mengobrol dengan beberapa dari mereka. Saya penasaran bagaimana mereka bisa begitu berani, dan bagaimana mereka dapat menyampaikan penilaian mereka secara meyakinkan.

Mereka menjawab, Menjadi KPL itu sebetulnya beban hati. Kami bagi tugas. Ada dua kelompok yang datang ke sekolah dua minggu sekali. Kami masuk ke semua kelas. Kami memberikan penilaian kepada guru harus adil, karena nilai kami mempengaruhi uang tunjangan guru. Tapi kami juga tidak bisa kasih nilai bagus kalau guru kurang bagus. Kami juga harus tanggung jawab kepada masyarakat.

Terdiri dari sembilan anggota, enam orang tua murid dan tiga tokoh masyarakat, anggota KPL dipilih oleh para orang tua dan perwakilan masyarakat. Lima dari anggota KPL di Golo Popa adalah perempuan, termasuk ketuanya.

 

Alfiana hands over the Service Performance Scoring Form to the school principal and signs the minutes of meeting.
Di akhir pertemuan, Alfiana memberikan laporan Penilaian Kinerja Guru kepada kepala sekolah dan menandatangani berita acara. (Foto: KIAT Guru).

 

 

Apa yang saya saksikan di Golo Popa mungkin salah satu contoh terbaik, namun tetap sangat membesarkan hati. Hanya dalam waktu tiga bulan setelah proses pendampingan masyarakat berjalan, KPL telah mampu menjaga akuntabilitas Kepala Sekolah dan guru terhadap indikator layanan yang disepakati bersama. Mungkin kelompok masyarakat lain akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai pada kondisi serupa, namun Golo Popa menunjukkan bahwa hal ini sangat mungkin terjadi!

Pada akhir kunjungan saya, setelah berterima kasih kepada Ibu Ester, sang Kepala Sekolah, atas penerimaan rombongan kami, saya bertanya bagaimana perasaannya terhadap KPL. Saya tidak menyangka beliau merasa keberadaan KPL amat membantu pekerjaannya.

Saya sering kasih ingat guru-guru untuk datang ke sekolah tepat waktu dan menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tapi bagaimana pun, saya, kan perempuan. Guru laki-laki sering tidak mau dengar. Sekarang semua anggota KPL ikut mengawasi dan mengingatkan guru-guru.

 

Artikel terkait: http://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/id/kelompok-pengguna-layanan-tingkatkan-kinerja-layanan-guru-di-desa-terpencil-di-ntt

Anak-anak Jadi Aktor Utama Program KIAT Guru

Sabtu, 12 Agu 2017 Author: Hera Diani

Di suatu sore di bulan Juli 2017, belasan murid berdiri membentuk lingkaran di halaman SDI Hawir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Secara bergantian mereka menyebutkan nama, kelas, dan dusun tempat tinggal, serta cita-cita mereka setelah besar nanti.

“Saya ingin jadi penyanyi!” kata Erdi. Emanuel bercita-cita menjadi polisi, sementara Yulia ingin menjadi dokter. Yang lain ingin menjadi pelukis, guru dan bidan. Anak-anak lalu tertawa ketika mendengar seorang anak perempuan menyebutkan ingin menjadi ibu rumah tangga. “Kerja di dapur!!” sahut seorang anak laki-laki, dan si anak perempuan pun tersenyum malu-malu.

Ketika sudah terlihat lebih santai, para murid, yang terdiri dari siswa kelas III hingga kelas VI, diajak masuk ke ruang kelas untuk berdiskusi tentang kinerja guru dan orang tua murid serta apa saran mereka.

Penilaian ini merupakan yang kedua yang pernah diadakan sejak program rintisan KIAT Guru diimplementasikan di sekolah tersebut, dengan kegiatan pertama berlangsung Maret 2016. Program rintisan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya adalah Manggarai Timur. Diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID, program rintisan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Murid menjadi inti utama program rintisan ini, dan opini dan saran mereka menjadi basis pembuatan indikator-indikator penilaian kehadiran dan kinerja layanan guru, serta respon untuk orang tua. Sebelum program dilaksanakan, para siswa menjadi pihak pertama yang dikonsultasikan oleh tim KIAT Guru karena merekalah yang dianggap paling mengetahui bagaimana kegiatan belajar mengajar seharusnya dilakukan di sekolah.

Di SDI Hawir, para siswa diberikan selembar formulir yang menyatakan bahwa informasi yang mereka tuliskan akan dibagikan ke pihak lain. Kertas tersebut memiliki dua emoticon, satu emoticon dengan muka tersenyum dan yang lain emoticon muka sedih. Mereka harus mencentang salah satunya sebagai tanda apakah mereka setuju atau tidak dengan pernyataan yang ditulis.

Setelah itu, mereka menulis di lembar-lembar kartu, apa yang menurut mereka harus dilakukan orang tua dan guru dalam mendukung kegiatan belajar. Membaca apa yang mereka tuliskan di kartu merupakan pengalaman yang emosional karena banyak harapan yang mereka tulis merupakan hal-hal yang biasa diterima teman-teman sebaya mereka di daerah yang lebih maju

Students from 4th to 6th grade of SDI Hawir share their opinions and wishes toward teachers and parents (Photos: Fauzan Ijazah).
Siswa kelas III hingga kelas VI SDI Hawir menyampaikan pendapat dan harapan mereka terhadap guru dan orang tua (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Banyak dari murid tersebut yang tinggal di dusun-dusun dekat situ dan harus berjalan 30 menit hingga satu jam ke sekolah, melewati jalanan berbatu, hutan dan sungai. Beberapa dari mereka ingin punya sepatu, menggantikan sandal yang saat ini mereka pakai ke sekolah. Mereka juga berharap ada bekal atau makan pagi setiap hari, seragam baru, dan ada siswa yang berharap tidak perlu lagi mencari kayu bakar. Sementara itu, para siswa melihat telah banyak peningkatan di sisi guru karena kini tidak ada lagi guru yang terlambat dalam tiga bulan terakhir, dan mereka bersikap lebih santai dan penuh semangat positif.

“Bagaimana dengan hukuman fisik? Apa ada di antara kalian yang masih dipukul guru?” tanya fasilitator KIAT Guru Pansbert Chrispierco Bunga yang memimpin jalannya diskusi.

“Tidaaak,” kata para siswa. Tapi kemudian terdengar suara lirih dari seorang anak laki-laki, “Iya.”

“Kamu masih suka dipukul?” tanya Pansbert.

“Iya, dengan (sepotong) kayu, di pantat saya. Tapi tidak keras, sih,” kata sang murid.

Anak lelaki tersebut, juga siswa lainnya, berkata bahwa mereka tidak berkeberatan dengan hukuman yang ada, tapi jangan terlalu berat, misalnya cukup dengan berlutut, bernyanyi atau cubitan ringan di pipi.

Untuk sekolah, mereka berharap ruang-ruang kelas direnovasi karena banyak yang ada dalam kondisi menyedihkan, dengan lantai dan atap yang berlubang dan dinding yang kotor. Sementara kamar mandi, sebuah bilik bambo reyot dengan lubang di tanah serta digunakan oleh 116 siswa dan 11 guru, juga butuh perbaikan dan perlu ditambah, menurut mereka.

Infrastruktur sekolah yang memadai juga menjadi harapan para murid SDN Mboeng di Desa Kaju Wangi, Kabupaten Manggarai Timur. Sekolah tersebut dibangun oleh masyarakat pada 2009 agar anak-anak mereka dapat bersekolah. Awalnya, bangunan sekolah terdiri atas empat ruang kelas dari bambu, dengan lantai tanah dan tanpa pintu serta jendela. Baru beberapa tahun belakangan Dinas Pendidikan membangun tiga ruang kelas tambahan dengan dinding permanen.

Berdasarkan harapan siswa, pihak sekolah kemudian melubangi dinding bambu agar sinar matahari dapat masuk, dan memasang pintu di ruang-ruang kelas (karena para siswa mengatakan mereka sering mendapati kotoran anjing di meja mereka pagi harinya). Mereka masih berharap dapat memiliki ruang kelas dengan bangunan permanen, tapi setidaknya kini mereka memiliki perpustakaan yang mereka minta tahun lalu.

“Saya suka sekali perpustakaan ini, saya suka membaca berbagai buku cerita,” kata Victoria Anggraini Dautteri Nambung, 10 tahun, siswa kelas VI.

Home
Wali Kelas I SDN Mboeng mengadakan kegiatan belajar di perpustakaan yang baru dibangun (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Guru Agama di SDN Mboeng Tomas Langga Ras berkata bahwa program KIAT Guru, khususnya penilaian murid, telah mengubahnya menjadi manusia baru.

“Dulu, saya adalah guru yang paling ditakuti. Suara saya keras, saya suka berteriak, dan menggunakan tangan saya untuk mendisiplinkan siswa. Sekarang, berkat KIAT Guru, saya sadar bahwa hukuman seperti itu tidak tepat dan merusak psikologis murid.”

Teachers of SDN Mboeng promote interactions among students during the classes (Photos: Fauzan Ijazah).
Guru-guru SDN Mboeng mendorong interaksi antar siswa pada saat belajar (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Janur Damianus, Kepala Sekolah SDN Mboeng, berkata bahwa harapan siswa sering membuat matanya berkaca-kaca.

“Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka bahwa siswa punya begitu banyak harapan. Sepertinya selama ini kita selalu menempatkan anak-anak sebagai obyek. Tapi KIAT Guru mengajarkan kita untuk berusaha lebih baik lagi. Hal ini menjadi motivasi bagi kami,” katanya.

KIAT Guru Jadi Jembatan antara Sekolah dan Masyarakat

Selasa, 8 Agu 2017 Author: Hera Diani Co-Author: Dewi Susanti, Sharon Kanthy

 

Pertemuan antara guru-guru dan anggota Kelompok Pengguna Layanan (KPL) SDI Hawir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang diadakan bulan Agustus 2017 berubah menjadi adu argumen yang cukup panas.  

Para anggota KPL, yang terdiri dari orang tua murid dan tokoh masyarakat, baru saja selesai mempresentasikan hasil tes cepat untuk melihat kemampuan Bahasa Indonesia dan Matematika murid, setelah program rintisan KIAT Guru diimplementasikan sejak April 2017 bulan di sekolah tersebut.

Program rintisan KIAT Guru merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya Manggarai Timur. Diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID, KIAT Guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru.

Tes cepat yang dilakukan terhadap 30 siswa SDI Hawir menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan studi awal pengukuran kemampuan belajar sebelum program diimplementasikan. Jumlah murid yang memiliki kesulitan dalam numerasi dan literasi telah menurun dan beberapa siswa tercatat memiliki kemampuan sesuai dengan tingkat kelasnya.

Meski ada kemajuan, hasil tes cepat menunjukkan masih ada siswa kelas V yang tidak bisa membaca, sedangkan studi awal memperlihatkan seluruh siswa lancar membaca. Fasilitator KIAT Guru Pansbert Chrispierco Bunga mengatakan bahwa karena soal yang diberikan saat studi awal dan tes cepat adalah dalam pilihan ganda, mungkin siswa bisa menjawab dengan benar di survei pertama tapi memberikan jawaban yang salah saat tes cepat. Situasi ini menciptakan keributan di antara KPL dan guru, karena kedua pihak jadi saling menyalahkan.

“Bagaimana bisa anak kelas V belum dapat membaca? Saya jadi mempertanyakan kapasitas para guru di sini. Mungkin akan lebih baik kalau sekolah menunjuk guru yang lebih cakap untuk kelas I, jadi kemampuan dasar siswa lebih kuat,” kata seorang anggota KPL.

Beberapa guru menjadi defensif dan mengatakan bahwa para orang tua seharusnya tidak sepenuhnya membebankan tanggung jawab pendidikan anak pada guru.

“Jangan salahkan kami karena kami ditunjuk oleh pemerintah. Orang tua seharusnya juga terlibat dalam mendidik anak-anaknya, membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah misalnya,” kata seorang guru.

Kepala Sekolah Damasus Jowan mengatakan ia bangga dengan kemajuan para siswa dan meminta agar peserta pertemuan mencari solusi.

“Bagaimana mungkin orang tua membebankan semua tanggung jawab pada guru? Tugas guru ada batasnya, tolong jangan melemparkan kesalahan kepada kami,” ujarnya.

Setelah melewati perdebatan panjang, KPL dan para guru berkesimpulan bahwa permasalahan ada di siswa yang kesulitan menerima materi pelajaran. Pansbert dari KIAT Guru, yang awalnya membiarkan kedua pihak mencari solusi sendiri, segera menimpali, mengatakan bahwa saling menyalahkan, terutama menyalahkan anak-anak tidak akan menyelesaikan isu yang ada.

“Bila hasilnya tidak memuaskan, mari kita cari solusi di luar apa yang telah kita sepakati,” katanya.

Mediasi

KIAT Guru memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan akuntabilitas guru dengan menyepakati lima hingga delapan indikator layanan untuk meningkatkan suasana lingkungan belajar mengajar. Di beberapa sekolah tempat program rintisan, keterlibatan masyarakat dikombinasikan dengan pembayaran tunjangan sesuai dengan kinerja guru, yang didasarkan dari penilaian yang diberikan KPL terhadap kehadiran atau kinerja layanan guru. Terdiri dari sembilan orang – enam orang tua murid dan tiga tokoh masyarakat, anggota KPL dipilih oleh orang tua dan anggota masyarakat.

Para anggota KPL datang bergantian ke sekolah dan memantau proses belajar mengajar. Seorang anggota KPL di Desa Nggilat, Maria Fransiska Di mengatakan, ada tiga metode yang mereka lakukan dalam mengevaluasi guru: datang langsung ke sekolah, pengecekan dokumen dan wawancara dengan siswa.

Tiap bulan, mereka memaparkan proses penilaiannya dalam pertemuan dengan pihak sekolah. Seringkali hasilnya menimbulkan banyak perdebatan antara KPL dan para guru, yang terkadang merasa para anggota KPL tidak melakukan tugasnya dengan baik, namun hasil evaluasi merka dapat mempengaruhi besaran tunjangan guru yang diterima.

Kader KIAT Guru yang bekerja sama dengan KPL di Desa Kaju Wangi di kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Manggarai Timur, Andreas Jemahang, mengakui bahwa para orang tua murid awalnya tidak percaya diri dalam menilai guru.

“Kami tidak percaya diri karena kami cuma petani dan kami harus mengawasi serta menilai guru-guru yang lulusan sarjana. Tapi kami selalu diberi semangat supaya jangan ragu,” katanya.

A KPL member reads the result Community Score Card
Anggota KPL membacakan hasil Formulir Layanan Guru, sebuah formulir sederhana yang terdiri hingga tujuh janji layanan. Hasilnya diumumkan lewat pertemuan antara guru dan KPL yang diadakan setiap bulan (Foto: Fauzan Ijazah).

 

KPL juga memantau masyarakat, khususnya orang tua, dan mengingatkan mereka untuk terlibat dalam meningkatkan kemampuan akademik anak-anaknya.

Di luar perdebatan yang ada, para guru dan masyarakat sepakat bahwa KIAT Guru telah menyatukan mereka lewat tujuan bersama, yaitu untuk memberikan kualitas pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

“Kami sebagai orang tua awalnya tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di sekolah, karena kami menganggap ada guru yang mengatur. Dengan KIAT Guru, kami diingatkan bahwa kemampuan anak-anak kita kebanyakan jauh di bawah standar. Sekarang, kinerja guru pun jauh lebih baik dan telah terbangun komunikasi antara guru dan orang tua murid,” kata Maria Fransiska Di dari Desa Nggilat.

In KIAT Guru, parents are encouraged to support their children’s academic abilities by providing an area for study group or helping them prepare to go to schools in the morning (Photo: Fauzan Ijazah).
Di KIAT Guru, para orang tua diajak untuk ikut terlibat dalam pendidikan anak-anak, salah satunya dnegan menyediakan area belajar di rumah atau membantu mereka bersiap-siap ke sekolah di pagi hari (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Guru di SDI Hawir Benediktus Roni mengatakan, KIAT Guru memberikan wadah mediasi bagi KPL dan guru untuk membahas dan dan menyelesaikan masalah bersama.

“Lewat kesepakatan antara sekolah dan masyarakat, kini orang tua dan guru jadi lebih sadar akan tanggung jawab mereka,” katanya.

Guru Agama Quintus Kalis mengatakan, KPL telah melakukan tugasnya dengan baik dalam memantau guru dan ia yakin lewat keterlibatan KPL, kualitas pendidikan di sekolah akan meningkat.

“KIAT Guru telah meningkatkan profesionalisme guru di sini. Program ini telah membuat ‘flu’ hilang dan kami tidak pernah absen sakit lagi,” candanya, dengan menambahkan bahwa dulu banyak guru yang tidak masuk ke sekolah karena alasan sakit flu. “Sekarang kami lebih sehat dan tingkat kehadiran kami sempurna.”

Classes in SDI Hawir in Nggilat Village in West Manggarai District (Photo: Fauzan Ijazah)
Suasana belajar di SDI Hawir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Barat (Foto: Fauzan Ijazah).

 

Kembali ke hasil tes cepat, KPL dan para guru memutuskan untuk mengubah janji layanan mereka di pertemuan seminggu setelahnya. Mereka menambah janji layanan dengan akan mengadakan kelas siang, mengganti upacara bendera dengan sesi belajar khusus, dan melakukan sesi penyegaran materi selama 15-20 menit di pagi hari. Janji layanan ini akan dievaluasi setiap bulan dan disesuaikan kembali setiap satu semester.

Secercah Harapan dari Desa Sebadak

Kamis, 10 Nov 2016 Author: TNP2K

 

Desa Sebadak adalah desa rintisan program KIAT Guru yang berada di Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Jarak tempuh desa dari kota Kabupaten Sintang sekitar 9,5 jam dengan kondisi jalan yang rusak sekaligus berlumpur dan hanya dapat dilalui mobil double-gardan dengan biaya sewa minimal Rp. 1,5 juta. Disini ada sekitar 290 kepala keluarga yang tersebar di tiga dusun, yaitu Dusun Ensamboy, Dusun Sejinggau, dan Dusun Sebangkong yang posisinya terpisah sendiri dari dua dusun lainnya karena berada di seberang Sungai Ketungau.

Semua anak di Desa Sebadak bersekolah di SDN 05 Sebadak yang terletak di Dusun Sejinggau. SDN 05 Sebadak memiliki 7 orang tenaga pengajar yang terdiri dari 2 orang guru PNS dan 5 guru honorer. Mata pencaharian masyarakat pada umumnya berladang, menyadap karet, dan bekerja harian di perusahaan sawit.  Lokasi yang terpencil dan belum terjangkaunya sinyal telekomunikasi maupun listrik, beberapa keluarga di malam hari menerangi rumahnya dengan genset dan panel surya. Untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, cuci pakaian maupun memasak, masyarakat sekitar menggunakan air sungai Ketungau.

Untuk pergi ke sekolah, setiap harinya murid SDN 05 Sebadak yang tinggal di Dusun Sebangkong harus menyeberangi Sungai Ketungau.

Bagaimana program KIAT Guru melibatkan masyarakat dalam memastikan keberadaan dan kualitas layanan guru untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dasar di daerah ini? Baca cerita selengkapnya di sini.

Kartini Muda dari Desa Compang Necak untuk Pendidikan Anak yang Lebih Baik

Minggu, 8 Mei 2016 Author: TNP2K

Desa Compang Necak terletak di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Bagi kebanyakan warga Lamba Leda, nama Compang Necak diasosiasikan dengan gambaran desa yang kondisi infrastrukturnya jauh dari layak. Walaupun dihiasi dengan pemandangan indah persawahan, perjalanan menuju desa Compang Necak dari ibu kota Kabupaten Ruteng, penuh dengan jalan rusak berbatuan. Biasanya warga setempat melewati jalan tersebut dengan berjalan kaki atau dengan mobil bak terbuka yang digunakan untuk angkutan umum, yang dinamai oto kol.

“Saya perempuan dan saya bangga menjadi Ketua [KPL]…” ucapan kebanggaan ini dituturkan oleh Ibu Alfi, sang “kartini muda” yang telah dipilih oleh masyarakat Desa Compang Necak untuk memimpin Kelompok Pengguna Layanan sebagai perwakilan masyarakat dalam pelaksanaan program rintisan KIAT Guru.

Meskipun dipandang rendah, sebagai perempuan Ibu Alfiana Pamut yang juga akrab dipanggil dengan nama “Alfi”, salah satu warga Compang Necak, tidak kecil hati. Ibu muda yang berumur 27 tahun ini, usai menyelesaikan kuliahnya sebagai pendidik di STKIP Pembangunan Indonesia Makassar pada tahun 2014, pindah ke dusun Golo Popa karena mengikuti sang suami. Walaupun bukan penduduk asli Golo Popa, Ibu Alfi dirangkul oleh masyarakat setempat terutama karena latar belakang pendidikannya sebagai guru. Di mata Ibu Alfi, anak-anak Golo Popa membutuhkan dukungan dalam membaca, menulis dan menghitung agar dapat menerapkan kemampuan dasar tersebut secara maksimal dalam kegiatan sehari – hari mereka.

Kuatnya aspirasi Ibu Alfi dalam memajukan pendidikan dasar di desa Compang Necak membuatnya sangat antusias saat mendengar kehadiran dan tujuan program KIAT Guru. Semangat beliau dan beberapa warga perempuan lainnya membuatnya terus hadir dan aktif berpartisipasi dalam rangkaian pertemuan KIAT Guru walaupun tidak jarang mereka mendapatkan ejekan dari kaum bapa-bapa.

 

Baca selengkapnya di sini: http://www.tnp2k.go.id/program/human-interest-story:-kartini-muda-dari-desa-compang-necak-untuk-pendidikan-anak-yang-lebih-baik

Memupuk Semangat Kebangsaan Sejak Dini di Sungai Seria

Selasa, 3 Mei 2016 Author: Rahman Ramlan

"Sudah lebih tiga tahun saya berjualan di sini, belum pernah ada upacara bendera di sekolah," ungkap Ibu Sohra, seorang penjual bubur di dekat lapangan sekolah SDN 09 Sungai Seria. Anak ibu Sohrah juga bersekolah di SDN 09 Sungai Seria. Pagi ini, anak ibu Sohrah berangkat lebih awal dari biasanya untuk mengikuti upacara bendera. "Itu anak saya, yang pegang bendera," aku ibu Sohrah bangga.

Perasaan haru dan bangga menggumpal di hati ibu Sohrah. Matanya berbinar melihat kibaran merah putih di tiang bendera diiringi lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan Indonesia yang sudah lama tak terdengar. Tapi hari itu, paduan suara anak-anak pelosok telah memecah kesunyian pagi di Sungai Seria, membangkitkan harapan baru bagi generasi di desanya.

Pentingnya Upacara Bendera

Pelaksanaan Upacara Bendera setiap hari Senin menjadi salah satu wujud kesepakatan layanan antara pihak sekolah dengan masyarakat di desa Sungai Seria. Pertemuan menyepakati janji layanan adalah salah satu model rintisan yang digagas oleh Program KIAT Guru (Kinerja dan Akuntabilitas Guru) melalui mekanisme yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat dengan pemerintahan yang responsif.

Melalui Kelompok Pengguna Layanan (KPL) yang berasal dari unsur perwakilan orang tua murid, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan warga yang peduli pendidikan, upaya memastikan kualitas layanan pendidikan di sekolah dapat termonitoring dan dievaluasi secara berkala.

 

Baca cerita selengkapnya di sini.